Efek Rumah Kaca melanggengkan ingatan publik soal Munir dan perlawanan pada penindasan

Efek Rumah Kaca Menghidupkan Ingatan Publik tentang Munir Lewat Lagu Di Udara

Efek Rumah Kaca

Band Efek Rumah Kaca Mengabadikan Perlawanan Munir dalam Karya Musik

Kelompok musik asal Jakarta, Efek Rumah Kaca, terus menjaga ingatan publik tentang aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib melalui lagu berjudul Di Udara. Lagu ini mereka ciptakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus perlawanan terhadap penindasan, dan hingga kini tetap menemukan pendengarnya di berbagai generasi. Efek Rumah Kaca merilis karya tersebut setelah kematian Munir pada September 2004, ketika kasus pembunuhannya mengguncang ruang publik Indonesia.

Vokalis sekaligus gitaris Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, memandang Munir sebagai simbol keberanian yang tetap bersinar di tengah situasi paling gelap. Meski tidak pernah mengenal Munir secara pribadi, Cholil mengaku mengenal sosok aktivis tersebut melalui pemberitaan media dan cerita dari berbagai kalangan. Dari sanalah tumbuh rasa hormat yang mendorongnya menghadirkan Munir dalam medium musik.

Cholil Mahmud Menemukan Inspirasi dari Film Dokumenter Kasus Munir

Inspirasi utama penciptaan Di Udara muncul ketika Cholil menonton film dokumenter Garuda’s Deadly Upgrade di Goethe Institute pada 2005. Film tersebut merekonstruksi pembunuhan Munir yang diracun arsenik dalam penerbangan menuju Amsterdam. Kisah itu menggugah Cholil karena memperlihatkan besarnya pengorbanan Munir, sekaligus minimnya pengetahuan publik tentang perjuangannya.

Cholil kemudian menyalurkan kegelisahan dan kekagumannya ke dalam lagu. Ia menyusun lirik yang ringkas, lugas, dan tidak menyebut nama Munir secara eksplisit. Efek Rumah Kaca memilih menghadirkan Munir melalui gambaran situasi, ancaman, dan perlawanan, sehingga pesan lagu tetap relevan dengan berbagai konteks penindasan.

Efek Rumah Kaca Menyebarkan Semangat Perlawanan Lewat Panggung Musik

Drumer Efek Rumah Kaca, Muhammad Akbar, menyebut Di Udara sebagai lagu dengan intensitas emosi yang kuat. Lagu tersebut, menurutnya, memuat ketegangan, kemarahan, dan harapan yang terus menyala setiap kali dimainkan di atas panggung. Seiring waktu, lagu ini semakin dikenal sebagai salah satu lagu perlawanan paling ikonik di Indonesia pasca-Reformasi 1998.

Kini, Di Udara kerap dinyanyikan bersama oleh penonton dalam berbagai pertunjukan, bahkan hingga ke luar negeri. Poster bergambar Munir sering muncul di antara kerumunan, menandakan bahwa pesan lagu tersebut terus hidup. Efek Rumah Kaca melihat lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan medium kolektif untuk merawat ingatan, menyuarakan kekecewaan, dan menegaskan bahwa perlawanan sekecil apa pun tidak boleh berhenti.