Produsen Kaca Lokal Uji Material Daur Ulang Demi Tekan Limbah Industri
Produsen Kaca Nasional Mulai Terapkan Bahan Baku Daur Ulang
belikaca.id – Industri kaca Indonesia mulai melangkah menuju ekonomi sirkular. Sejumlah produsen nasional, termasuk PT Asahimas Chemical dan PT Mulia Glass, kini menguji coba penggunaan bahan baku daur ulang untuk menekan emisi karbon dan limbah industri.
Tahap awal dilakukan di pabrik-pabrik mereka di Cilegon dan Sidoarjo, sebagai bagian dari roadmap green manufacturing 2025–2030.
Produsen Kaca Gunakan Pecahan Botol dan Silika Sisa Industri
Sebagai langkah konkret, perusahaan mencampurkan pecahan botol bekas dan pasir silika dari limbah produksi keramik dan pengecoran logam ke dalam formula kaca baru. Dengan mengganti sebagian pasir kuarsa murni, produsen berhasil mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku alam.
Uji laboratorium internal menunjukkan bahwa campuran yang mengandung hingga 30% material daur ulang tetap memenuhi standar kejernihan dan kekuatan kaca arsitektural.
Industri Targetkan Penurunan Emisi Produksi Bertahap
Selain mengurangi limbah, pendekatan ini mampu menekan konsumsi energi pada proses peleburan. Karena pecahan kaca lebih cepat meleleh dibandingkan pasir kuarsa, tungku peleburan bekerja lebih efisien. Akibatnya, konsumsi energi dapat turun hingga 10% per ton produksi.
Menurut data Kementerian Perindustrian, sektor kaca menyumbang sekitar 2% dari total emisi industri nasional. Dengan pendekatan baru ini, pabrikan menargetkan pengurangan emisi secara bertahap hingga mencapai ambang karbon netral pada 2030.
Pasar Kaca Daur Ulang Siap Diluncurkan pada 2026
Mulai pertengahan 2026, perusahaan berencana memasarkan produk kaca ramah lingkungan ini ke proyek perkantoran dan apartemen hijau. Fokus pasar tertuju pada pembangunan bersertifikat EDGE, Greenship, dan LEED, terutama di Ibu Kota Nusantara dan wilayah Jakarta Selatan.
Untuk mendukung legalitas penggunaan, beberapa produsen juga mengajukan skema sertifikasi SNI baru yang mencakup produk dengan komposisi daur ulang.
Fasilitas Pemrosesan Limbah Mulai Dibangun di Pabrik
Langkah inovatif ini tidak berhenti pada substitusi bahan baku. Pabrik di Cilegon telah mengoperasikan fasilitas pemrosesan pecahan kaca internal dengan kapasitas hingga 120 ton per bulan. Di sisi lain, fasilitas di Sidoarjo menggandeng industri minuman dan farmasi untuk mengamankan pasokan botol bekas.
Pendekatan ini memperkuat komitmen industri kaca nasional dalam mendukung ekonomi berkelanjutan sekaligus menciptakan rantai pasok yang mandiri dan efisien.
Pemerintah Dukung Transformasi Melalui Insentif
Untuk mendorong transisi industri, pemerintah memberikan insentif seperti pengurangan pajak serta prioritas dalam pengadaan proyek strategis. Dengan dukungan ini, sektor kaca diperkirakan dapat menjadi pionir dalam penerapan prinsip ekonomi sirkular di sektor bahan bangunan.
Transformasi ini menjadi sinyal kuat bahwa industri kaca Indonesia tengah bersiap untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Related Posts

Permintaan Kaca Laminated Naik Tajam karena Proyek Rumah Sakit dan Bandara Baru

Harga Kaca Bangunan Masih Stabil di Agustus 2025, Proyek Perumahan Jabodetabek Jadi Penggerak Utama
