Harga Plastik Melonjak, Produsen Minuman Mulai Kembali ke Kemasan Kaca
Produsen Makanan dan Minuman Menghadapi Lonjakan Harga Plastik yang Mendorong Kembali Penggunaan Kemasan Kaca

GAPMMI Menyatakan Industri Makanan dan Minuman Mengalami Tekanan Akibat Kenaikan Harga Plastik
Industri makanan dan minuman di Indonesia menghadapi tekanan berat setelah harga plastik melonjak tajam dan pasokannya semakin terbatas pada 13 April 2026 pukul 19.03 WIB. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman, menjelaskan bahwa kondisi tersebut langsung memengaruhi biaya produksi di berbagai sektor.
Adhi menegaskan bahwa plastik tetap menjadi komponen utama dalam hampir seluruh produk makanan dan minuman. Oleh karena itu, setiap kenaikan harga maupun gangguan pasokan langsung memberikan dampak signifikan terhadap struktur biaya industri. Selain itu, ia juga mencatat bahwa beberapa pemasok mulai mengalami keterbatasan stok yang memperburuk situasi di lapangan.
Pelaku Industri Menghitung Kenaikan Biaya Produksi Akibat Lonjakan Harga Plastik
Adhi Lukman menjelaskan bahwa harga plastik di pasar mengalami kenaikan yang sangat bervariasi, mulai dari 30 persen hingga mencapai 100 persen tergantung jenis dan penggunaannya. Ia mencontohkan kemasan sederhana seperti plastik pembungkus produk makanan beku yang mengalami lonjakan paling tajam.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa kemasan menyumbang sekitar 20 hingga 25 persen dari total biaya produksi. Ketika harga plastik naik hingga 60 persen, biaya produksi otomatis ikut meningkat sekitar 12 persen. Namun, di sisi lain, pelaku industri tidak mampu menaikkan harga jual secara seimbang sehingga margin keuntungan terus tertekan.
Pelaku Usaha Menghadapi Tekanan Margin Akibat Ketidakseimbangan Harga Jual dan Biaya Produksi
Adhi Lukman menyoroti kondisi pasar yang tidak memungkinkan pelaku usaha menyesuaikan harga jual secara cepat. Akibatnya, banyak produsen harus menanggung selisih biaya produksi yang semakin besar. Dalam beberapa kasus, perusahaan bahkan menghadapi kerugian karena tekanan biaya yang tidak seimbang.
Ia juga menjelaskan bahwa kenaikan biaya kemasan ikut memengaruhi harga sejumlah produk kebutuhan pokok di pasar. Produk seperti beras, minyak goreng, dan makanan olahan ikut terdampak karena seluruhnya menggunakan kemasan plastik dalam distribusi dan penjualan.
Industri Menghadapi Penurunan Produksi Plastik Domestik dan Ketergantungan Impor
Adhi Lukman mengungkapkan bahwa produksi plastik dalam negeri mengalami penurunan hingga sekitar 30 persen, terutama akibat ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kondisi ini mempersempit ruang gerak industri hilir yang sangat bergantung pada pasokan domestik.
Untuk memenuhi kebutuhan, pelaku industri terpaksa meningkatkan impor bahan baku. Namun, langkah tersebut tidak selalu berjalan mulus karena rantai pasok global masih menghadapi ketidakpastian. Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha mulai mencari alternatif kemasan yang lebih stabil.
Pelaku Industri Kembali Mempertimbangkan Penggunaan Kemasan Kaca sebagai Solusi Alternatif
Adhi Lukman menyampaikan bahwa sejumlah produsen minuman mulai mempertimbangkan kembali penggunaan kemasan kaca setelah sebelumnya beralih ke plastik. Perubahan ini muncul sebagai respons terhadap kelangkaan dan kenaikan harga plastik yang semakin menekan industri.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut lebih merupakan solusi jangka pendek untuk menjaga keberlangsungan produksi. Selain itu, industri juga berharap adanya penguatan rantai pasok, termasuk peningkatan produksi plastik daur ulang yang memenuhi standar keamanan pangan.
Industri Mendorong Penguatan Daur Ulang Plastik untuk Menjaga Stabilitas Produksi
Adhi Lukman mendorong peningkatan kapasitas industri daur ulang plastik agar dapat memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri. Ia menilai bahwa plastik daur ulang berstandar food grade dapat menjadi solusi penting dalam menjaga keberlanjutan produksi.
Selain itu, ia juga berharap adanya upaya pengelolaan limbah plastik secara lebih optimal, termasuk melalui pemanfaatan bahan baku impor untuk industri daur ulang. Dengan demikian, tekanan pasokan di sektor hulu dapat berkurang dan stabilitas harga dapat kembali terjaga.
GAPMMI Menyerukan Respons Cepat untuk Menjaga Stabilitas Industri Makanan dan Minuman
Di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung, GAPMMI memilih untuk tidak memberikan proyeksi kinerja industri hingga akhir tahun. Adhi Lukman menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah mencari solusi cepat agar tekanan biaya tidak semakin memburuk.
Ia juga meminta adanya langkah konkret dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku. Dengan demikian, industri makanan dan minuman diharapkan dapat tetap beroperasi secara berkelanjutan tanpa mengalami tekanan yang lebih berat.
