Imbas Lonjakan Harga Plastik, Pelaku Industri Pangan Pikirkan Pengembalian Kemasan Botol Kaca
Lonjakan Harga Plastik Mendorong Industri Pangan Mempertimbangkan Kembali Penggunaan Botol Kaca

Pelaku Industri Pangan Menyesuaikan Strategi Kemasan di Tengah Lonjakan Harga Plastik
Pelaku industri makanan dan minuman mulai menyesuaikan strategi produksi mereka setelah lonjakan harga plastik memicu tekanan biaya yang signifikan di pasar. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyampaikan kondisi tersebut pada 10 April 2026.
Adhi menjelaskan bahwa sejumlah produsen kini kembali mempertimbangkan penggunaan botol kaca sebagai alternatif kemasan. Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga plastik tidak hanya terjadi pada tingkat produsen, tetapi juga merembet hingga ke pedagang akibat keterbatasan stok di lapangan.
Dalam situasi ini, pelaku industri merespons kenaikan biaya dengan mencari opsi kemasan yang lebih stabil untuk menjaga keberlanjutan produksi.
GAPMMI Mengungkap Penurunan Produksi Hulu Plastik di Dalam Negeri
Adhi S. Lukman mengungkapkan bahwa industri hulu plastik dalam negeri mengalami penurunan produksi hingga sekitar sepertiga dari kapasitas normal. Kondisi tersebut turut diperparah oleh keterbatasan bahan baku yang juga dialami sejumlah negara pemasok.
Akibatnya, harga plastik di tingkat industri mengalami kenaikan tajam antara 30 hingga 60 persen. Sementara itu, pada tingkat pedagang, lonjakan harga bahkan mencapai sekitar 100 persen karena stok yang semakin terbatas.
Adhi menegaskan bahwa kondisi ini tidak hanya memengaruhi biaya produksi, tetapi juga memaksa pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian cepat dalam rantai pasok kemasan.
Pelaku industri menghitung dampak kenaikan plastik terhadap biaya produksi
Kenaikan harga plastik memberikan dampak langsung terhadap struktur biaya industri pangan karena kemasan menyumbang sekitar 20 hingga 25 persen dari total biaya produksi. Dalam kondisi ini, kenaikan harga bahan kemasan memberikan tekanan signifikan terhadap margin keuntungan perusahaan.
Adhi menjelaskan bahwa jika biaya kemasan naik sekitar 60 persen, maka biaya produksi bisa meningkat hingga 12 persen. Namun, pelaku usaha tidak selalu dapat menaikkan harga jual secara proporsional di pasar.
Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan mengalami penurunan margin bahkan potensi kerugian karena tidak mampu menyesuaikan harga produk secara cepat.
Industri pangan mempertimbangkan kembali penggunaan botol kaca sebagai alternatif
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah produsen minuman mulai mempertimbangkan kembali penggunaan botol kaca yang sebelumnya ditinggalkan demi efisiensi biaya. Adhi menyampaikan bahwa sebagian produsen yang dulu beralih ke plastik kini kembali mengevaluasi opsi kemasan kaca sebagai langkah antisipasi kelangkaan plastik.
Selain itu, pelaku industri juga mendorong penguatan rantai pasok melalui peningkatan impor bahan baku serta pengembangan industri daur ulang dalam negeri. GAPMMI menilai plastik daur ulang berkualitas food grade dapat menjadi solusi penting untuk menjaga stabilitas produksi.
Adhi juga mendorong peningkatan kapasitas produksi daur ulang dengan memanfaatkan limbah domestik maupun impor bahan baku plastik bekas yang memenuhi standar.
Pemerintah dan industri menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga pasokan
Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri terus menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga keberlanjutan pasokan plastik nasional. Upaya tersebut mencakup pencarian sumber bahan baku alternatif di luar kawasan Timur Tengah serta optimalisasi penggunaan LPG sebagai bahan penyangga industri petrokimia.
Pemerintah juga mendorong pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas produksi industri makanan dan minuman di tengah gejolak harga global.
