Nasib industri kaca di 2026: di tengah daya beli & ancaman gas mahal

Industri Kaca Indonesia Mendorong Pertumbuhan di 2026 di Tengah Tekanan Daya Beli dan Biaya Energi

Nasib Industri Kaca di 2026: di Tengah Daya Beli & Ancaman Gas Mahal

Pelaku Industri Kaca Mengandalkan Pasar Domestik untuk Menjaga Pertumbuhan pada 2026

Pelaku industri kaca di Indonesia menargetkan peningkatan kinerja penjualan dan utilisasi produksi sepanjang 2026 di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih berlangsung. Ketua Umum Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI), Henry T. Susanto, menegaskan bahwa pasar domestik tetap menjadi penopang utama industri.

Henry menyampaikan bahwa industri kaca sangat bergantung pada konsumsi dalam negeri yang menyumbang sekitar 80 persen dari total produksi anggota APGI. Sementara itu, ekspor hanya berkontribusi sekitar 20 persen dengan tujuan utama kawasan Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika Selatan, dan Eropa.

Ia juga menekankan bahwa pertumbuhan industri sangat bergantung pada daya beli masyarakat serta target pertumbuhan ekonomi nasional yang diharapkan mencapai 5,4 persen pada 2026. Selain itu, ia berharap sektor manufaktur tetap berada dalam zona ekspansi dengan indeks PMI di atas 50.

Pelaku industri kaca menilai ekspor menghadapi tantangan geopolitik global

Henry T. Susanto menjelaskan bahwa ekspansi pasar ekspor menghadapi tantangan yang semakin besar akibat dinamika geopolitik global. Kondisi tersebut membuat pelaku industri perlu lebih berhati-hati dalam mengembangkan pasar luar negeri.

Meskipun demikian, APGI tetap mendorong penguatan daya saing agar industri kaca Indonesia dapat mempertahankan posisi di pasar internasional. Di sisi lain, pelaku industri menilai stabilitas permintaan dalam negeri menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Pelaku usaha industri kaca menghadapi ancaman biaya energi pada 2026

Selain tantangan permintaan pasar, industri kaca juga menghadapi tekanan dari sisi biaya energi, terutama gas yang menjadi komponen utama dalam proses produksi. Kenaikan biaya energi berpotensi memengaruhi struktur biaya dan margin keuntungan industri.

Pelaku usaha menilai kondisi ini perlu mendapatkan perhatian karena dapat berdampak langsung pada harga produk di pasar. Oleh karena itu, stabilitas pasokan energi menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan kinerja industri kaca pada tahun 2026.

APGI mendorong penguatan konsumsi dalam negeri untuk menopang pertumbuhan industri kaca

APGI menekankan pentingnya penguatan konsumsi domestik sebagai strategi utama untuk menjaga pertumbuhan industri kaca. Henry menyebutkan bahwa peningkatan daya beli masyarakat akan berperan besar dalam mendorong permintaan produk kaca di pasar nasional.

Selain itu, pelaku industri berharap kondisi ekonomi nasional terus membaik agar sektor manufaktur tetap stabil dan mampu bertahan di tengah tekanan global. Dengan demikian, industri kaca diharapkan dapat tumbuh sejalan dengan perkembangan ekonomi Indonesia pada 2026.